Selasa, 10 Mei 2011

SAAT BINAR BINTANG MENGHILANG



HELMY FENISIA

Siang makin tak bersahabat, perutku pun mulai keroncongan. Aku paling benci tugas di proyek seperti sekarang ini, di tempat yang lumayan jauh dari kantorku. Selain panas, aku sering terpaksa membiarkan cacing-cacing di perutku mengamuk. Tugas sebagai teknikal manager dan pengawas lapangan sering membuatku kesulitan dan pusing mencari makan siang. Mau kembali ke rumah, tantu saja tak mungkin mengingat jaraknya yang berkilo-kilo dari tempat tugasku. Ke restoran dekat tempat kerjaku? Bah, bisa bangkrut aku. Apalagi ini akhir bulan. Seharusnya uang di kantongku cukup untuk beberap hari lagi, bisa-bisa ludes dalam sekejap. Lebih baik kuhabiskan bensin mobilku untuk mencari warung terdekat. Aku tak mau terpaksa menguras uang di atm, aku harus rajin menabung untuk masa depan keluargaku. Anak buahku sih enak, mereka bawa bekal dari rumah. Sedang istriku, juga bekerja.
            Akhirnya dapat juga warung makanan. Setelah hampir setengah jam aku mencari, senyumku dalam hati. Lumayan ramai warung nasi ini. Selain berada di pusat kota, tempatnya pun lumayan nyaman. Terletak di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon besar nan rindang.
            “Nasi satu Bu. Pakai sambal ikan.” Aku memesan sepiring nasi berikut lauk ikan. Kemudian berjalan mengambil tempat duduk.
            Tak berapa lama, seorang bocah perempuan dengan pakaian kumal muncul dengan kerincingan di tangannya. Dia bernyanyi dari meja yang satu ke meja yang lainnya. Ada beberapa pengunjung memberi sekedar padanya. Mungkin kasihan. Mungkin untuk menghargai suara dan usahanya. Ada juga yang tak peduli. Anehnya, tidak ada kecewa yang terbias di wajah cemongnya meski tak dihargai. Ia berpindah ke meja lain. Tersenyum sebentar lalu mulai bernyanyi.
            Bocah perempuan itu berteriak kegirangan saat sepasang muda-mudi memberinya selembar sepuluh ribuan. Aku melihat binar bintang di matanya. Tangan hitamnya yang penuh daki melipat dengan hati-hati lembaran ungu itu. Aku yakin ,seumur-umur baru kali ini ada orang yang memberinya demikian banyak.
            “Terima kasih Mas, terima kasih Mbak.”Ucapnya sekali lagi sebelum ia berlalu menuju meja lainnya.
            “Sama-sama.” Sahut kedua muda-mudi itu.
            Bersamaan dengan datangnya pesananku, bocah itu menghampiriku. Bintang di matanya masih belum hilang.
            “Permisi Mas..” Dia berkata sebelum menyuarakan lagu pilihannya untukku.
            “Maaf Dik, aku tidak suka mendengarkan lagu saat  sedang makan.” Ucapku. Sekejap binar bintang itu meredup.
            “Tapi aku suka bila ada yang mengajakku ngobrol saat aku makan.” Sambungku.
            “Ngobrollah denganku. Aku akan membayar suaramu. Sama kan?” Bintang itu kembali berbinar.
            “Sudah makan?” tanyaku ketika kupersilahkan dia duduk di depanku. Pemilik binar bintang itu diam. Mungkin segan untuk menjawab. Aku yakin, perutnya masih belum terisi siang ini. Aku menghargai keseganannya. Setidaknya, aku menilai dia bukan orang yang suka mengambil kesempatan.
            “Pesanlah apa yang kau suka.” Aku berkata kepadanya.
            “Tidak Kak.” Tolaknya.
            “Sudahlah, tak usah sungkan. Aku yang akan  membayar, meski aku tahu kau sedang banyak uang sekarang.”
            Pemilik binar bintang itu tersenyum. Dia tahu aku bercanda padanya. Aku memesan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan segelas es teh untuknya.
            “Siapa namamu?”
            “Ratih Kak. Kakak siapa?” Dia balik bertanya.
            “Oh, aku Rafa. Lengkapnya Rafael.”
            “Masih sekolah?” Ratih, bocah itu mengangguk.
            “Kelas tiga SD.”
            “Bagus kalau begitu.”
            “Apa kamu ngamen setiap hari?” aku bertanya sambil mengunyah makananku. Ratih menggangguk.
            “Iya. Habisnya, bapak sudah meninggal. Di rumah tinggal ibu dan dua adik Ratih yang masih kecil,” ceritanya.
            “Makanya Ratih harus ngamen buat bayar uang sekolah dan bantu ibu yang cuma bekerja sebagai pembantu.”
            “Tapi setahuku, ada mafia yang menaungi kalian. Maksudku, aku pernah mendengar kalau anak-anak jalanan seperti kalian ada yang mengatur. Lalu mengambil hasil jerih payah kalian.”
            “Iya. Untungnya Ratih tidak pernah bertemu mereka. Kalau pun harus  bertemu dengan orang-orang seperti itu, maka akan Ratih lawan. Enak saja, masa Ratih yang kerja susah payah mereka yang menikmati hasil.”
            “Benar kau berani?” Aku menatapnya.
            “Tentu saja. Kata bu guru, kita harus mempertahankan hak kita. Kalau kita benar, jangan pernah takut . Selain itu , kewajiban juga tidak boleh dilupakan.”  Ucap Ratih serius.
            Sepertinya dia anak yang cerdas.
            “Kau ranking berapa di sekolah?”
            “Ya alhamdulilah Kak, Ratih tiga besar di sekolah. Makanya, bu guru memberikan buku dan seragam sekolah gratis.” Dia tersenyum. Ada bangga yang kubaca di wajahnya.
            “Biasanya kau ngamen di mana saja?”
            “Kalau jam segini, Ratih ngamen di warung ini. Soalnya kan banyak pengunjungnya. Selain itu, di lampu merah. Di dekat bundaran sana.” Dia menunjuk dengan dagunya bundaran yang tak jauh dari warung ini.
            “Tapi kau harus hati-hati. Kau tahu kan bahaya kalau berada di jalanan. “ Aku menasehatinya.
            Setelah kami selesai makan, aku membayar semuanya. Lalu menyelipkan beberapa ribu ke tangannya.
            “Tidak usahlah Kak. Kan sudah ditraktir makan.” Dia memandangku.
            “Kau kan juga sudah menemaniku.” Aku tersenyum.
            “Terima kasih Kak.” Mata bintangnya berbinar.
            Hari-hari selanjutnya, ketika aku masih harus bertugas di proyek, aku kembali makan di warung itu. Bercengkrama dengan pemilik binar bintang sambil mendengarnya berceloteh tentang sekolah, teman-teman dan keluarganya. Jujur saja, aku tidak tahu mengapa aku senang ngobrol dan memandang binar matanya.
            Ratih juga sempat bercerita kalau kemarin dia diminta gurunya untuk ikut lomba nyanyi mewakili sekolahnya bulan depan.
            “Baguslah, mana tahu kau bisa menang. Hadiahnya pasti lumayan.” Kataku.
            “Kalau menang, aku akan traktir Kak Rafael.”
            “Yang benar? Kakak tunggu ya, makanya kamu harus rajin latihan.”
            “Tapi Kak Rafael tidak mau mendengar suara Ratih. Apa suara Ratih jelek ya Kak?” tanyanya.
            “Tidak. Hanya kakak memang tidak suka diganggu dengan suara nyanyian kalau kakak sedang makan. Kalau makan sambil ngobrol, lebih asyik,” sahutku.
            Ini hari keempat kami bertemu. Seperti biasa aku memintanya menemaniku makan sambil ngobrol. Ratih menolak untuk makan siang. Katanya masih kenyang. Aku tak melihat binar bintang di matanya. Binar itu seolah menghilang.
            “Ratih , ada apa? Kok lesu, tadi ulangan gagal ya?” aku menggodanya. Aku tahu, bocah tegar in tak akan gagal menghadapi ulangan mengingat dirinya yang ulet. Lagipula, dia bertekad akan selalu menjadi juara kelas demi meringankan beban ibunya.
            Ratih menggeleng. Aku melihat memar di wajah kirinya.
            “Ratih, kenapa kamu, apa kamu jatuh?” aku memandangnya khawatir sambil memeriksa wajahnya.
            “Tadi Ratih bertemu Joni. Kepala preman di bawah jembatan dekat bundaran itu. Katanya mulai hari ini , sebelum pulang Ratih harus setor dulu.”
            “Apa kamu tidak melawannya?”
            “Sudah, bahkan Ratih gigit tangannya saat tangan Ratih dicekal, tapi Joni kan besar. Dia menampar Ratih. Kalau Ratih tidak setor sejumlah uang yang dia minta, Ratih akan dibunuh.” Bocah itu tertunduk sedih.
            Aku benar-benar terenyuh. Aku memeluknya, tak peduli bajuku kotor oleh daki dan debu yang menempel di badannya. Juga pandangan heran orang-orang di sekitar kami.
            “Ya sudahlah. Nanti kalau kamu pualng, cari jalan lain saja. Jangan lewat sana. Kalau dia macam-macam lagi, baru kita lapor polisi.” Aku menenangkannya.
            Joni brengsek! Aku tidak rela kalau binar di mata Ratih hilang karena dia. Manusia sampah itu harus dienyahkan!
            Hari ini waktunya gajian. Aku ke kantor untuk urusan administrasi anak buahku di proyek. Aku yakin, tanpa pengawasanku pun mereka akan bekerja dengan baik. Aku kembali ke proyek sore harinya untuk membagi gaji anak buahku. Besok hari libur, begitu pula dengan lusa. Aku ingin menghabiskannya di rumah bersama Ayesha, isriku tercinta.
            Aku dan Ayesha menikah tiga tahun yang lalu. Sampai kini, kami masih belum dikaruniai momongan. Kata orang, mengadopsi anak bisa menjadi pilihan sebagai pemancing agar istri bisa mengandung. Setengah percaya, setengah tidak.
            Tiba-tiba aku teringat Ratih. Mungkin aku bisa mengadopsinya sebagai anak atau mengangkatnya sebagai anak asuh. Kupikir kedua hal itu sama saja. Ketika kuutarakan keinginan itu, istriku setuju . Lagipula hampir setiap hari dia mendengar ceritaku tentang Ratih.
            “Aku setuju saja Mas. Kapan kita bisa bertemu dengan dia dan keluarganya?” Ayesha sepertinya tak sabar.
            “Lihat lusa saja. Aku bicara dulu dengannya apakah dia setuju. Aku harap dia setuju, apalagi sekarang ada Joni. Aku takut terjadi apa-apa padanya.”Ucapku.
            “Ya, lebih cepat lebih baik Mas. Aku juga ingin melihat binar bintang di matanya.” Aku tersenyum memeluk istriku.
            Aku mampir di warung Bu Nunik, tempat biasa aku dan Ratih menikmati makan siang sambil ngobrol. Hingga pukul dua belas tiga puluh, Ratih belum juga terlihat. Aneh!
            “Bu, lihat Ratih tidak hari ini?” Aku bertanya pada pemilik warung yang sudah mengenal kami.
            “Tidak Nak Rafa, ibu juga heran. Tumben hari ini Ratih belum tampak jam segini. Biasanya, jam sebelasan sudah ada.”
            Aku menghela nafas panjang. Mendadak aku cemas akan keadaannya.
            “Bu, kemarin Ratih datang tidak?”
            “Oh, ada.”
            “Tapi  beberapa hari ini Ratih sepertinya kurang ceria. Sepertinya dia gelisah.” Kisah Bu Nunik.
            “Apa terjadi sesuatu ya, Bu?”
            “Ya, emboh ya ,Nak. Ibu juga tidak sempat tanya.”
            Akhirnya aku kembali ke tempat tugasku. Sesampainya di rumah istriku menyambutku dengan pertanyaan akan persetujuan Ratih.
            “Bagaimana Mas, Ratihnya sudah ditanya belum?”
            “Belum. Hari ini tidak bertemu dia.”
            “Lho..kok?”
            Aku menghempaskan tubuhku di sofa. Jantungku seolah berhenti berdetak ketika mataku menangkap tulisan besar di Koran kriminal yang belum sempat kubaca sejak tadi pagi.
RATIH, PENGAMEN CILIK DEMI MEMPERTAHANKAN HAK
TEWAS DIANIAYA

            Segera kuraih Koran itu dan kulihat foto Ratih yang terkapar tak berdaya. Binar bintang itu telah meredup. Bahkan menghilang dan pergi untuk selamanya.
            “Mas,” panggil istriku saat aku terpekur dengan koran di tanganku.
            “Ratih Sa, dia…” aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Ayesha meraih koran di tanganku. Istriku belum tahu sebab dia tidak suka membaca berita kriminal.
            “Ya Tuhan, kasihan dia.” Ayesha bergumam.
            “Aku..aku tak dapat lagi melihat binar matanya , Sa. Aku tak sempat memintanya memanggilku ayah.” Ucapku lirih.
            Istriku memelukku. Dia tahu, antara aku dan Ratih telah mempunyai ikatan kuat. Aku sendiri tidak tahu harus menamai apa rasa itu. Aku sayang dia, kagum akan keuletan dan kegigihannya dalam menjalankan hidup.Aku selalu ingin melihat binar bintang di matanya, tapi binar itu telah menghilang sebelum aku sempat melindunginya. Maafkan aku Ratih…

           

Jumat, 06 Mei 2011

SENJA DI KUTA BALI



By: Helmy Fenisia


Senja mulai beranjak pergi, begitu pun pengunjung yang sedari tadi menikmati lembayung senja dengan sunsetnya yang indah.  Satu persatu meninggalkan pantai yang memberi pesan pada setiap orang agar tak bosan datang kembali. Kupandangi wajah Bryan,  matanya masih seperti tadi. Binar kekagumam belum juga hilang dari bola mata coklatnya. Meskipun cakrawala sudah berubah warna menjadi keabu-abuan tak juga ia ingin beranjak.
            “Are we going now?” Akhirnya aku bertanya padanya. Dia memandangku sambil tersenyum dan membawaku dalam pelukan eratnya.
            “You look like  the sunset my Dear,” ucapnya mencium keningku. Membawa desiran halus menjalar ke seluruh aliran darahku. Membuat wajahku merona merah.
            Perlahan kami berjalan meninggalkan Kuta Beach. Lampu-lampu penghias jalan sudah kembali terlihat meramaikan jalanan yang banyak dilalui turis-turis lokal maupun mancanegara.
            Pemilik toko-toko souvenir tampak sibuk melayani pembeli yang kebanyakan berambut pirang. Ada juga beberapa pembeli yang bermata sipit dan berpipi merah. Pasti mereka turis Asia.
            “Are you hungry?” Tanyaku pada Bryan saat kami sudah hampir dekat dengan sebuah pusat perbelanjaan yang juga memiliki stand makanan.
            “Yap!” Dia memegang perutnya sebelum menjawab . Tingkah konyolnya membuatku tersenyum.
            “Indonesian Food, or Western Food?”
            “Whatever, it’s up to you Honey.”  Aku tahu, meskipun dia menyerahkan menu makan malam padaku tapi pasti dia lebih suka kalau makan malam kali ini adalah makanan barat. Beberapa hari ini sudah terlalu sering dia makan masakan Indonesia yang meskipun enak tapi pasti membuatnya bosan.
            Akhirnya kami masuk ke restoran cepat saji yang menyediakan masakan barat. Lahap sekali dia, entah sudah lapar atau karena dia rindu dengan masakan yang sudah sering dimakannya..
            Setelah selesai makan aku mengajaknya berkeliling.
            “Honey, don’t you think we have to buy something for your aunt and her family coz they are so kind with us?”
            “Good idea, let me help you ok?” Ucapku  kemudian membantunya mencari apa yang pantas untuk keluarga tanteku yang sudah menampung kami selama aku dan Bryan menghabiskan waktu di Bali.
            Aku bangga pada kekasihku yang pandai sekali mengambil hati orang. Di Medan, papa dan mama pun dibuatnya senang. Malah papa yang semula tak menyukai hubungan  jarak jauhku dengannya kini jadi bisa menerimanya dengan baik. Saat mama menyarankan aku membawanya ke Bali, papa juga mendukung, asal aku bisa menjaga kepercayaan papa padaku dan harus tinggal di rumah tante dengan kamar terpisah.
            Sejujurnya hubunganku dengan Bryan amat unik. Bahkan tak terpikirkan sama sekali. Sebelumnya dia adalah sahabat penaku yang berasal dari Kanada.  Selama bertahun tahun menjadi sahabat pena kami saling curhat dan tukar cerita. Semula aku menganggapnya kakak laki laki yang tidak pernah kumiliki. Bercerita tentang cowok yang dekat denganku dan meminta pendapatnya. Pun tentang seseorang yang dari masa lalu yang tak pernah bisa kulupakan sama sekali. Hingga akhirnya pada tahun kedelapan  persahabatan kami dia mengungkapkan sesuatu yang membuatku terkejut. Tentang perasaannya padaku!
“It’s  been   four years i keep it, and i can’t hold this feeling again. I love You, Karin.”  Dia menyatakan cintanya yang sudah lama ia simpan untukku. Waktu itu aku nggak tahu harus ngomong apa. Aku jelas tidak bisa menerimanya karena hatiku telah kuserahkan kepada seseorang dari masa laluku. WIANDRA! Ya, padanya telah kutitipkan rinduku dan cintaku yang sudah berumur tiga belas tahun.  Aku sama sekali tidak bisa melupakan Wiandra, sejujurnya sampai kini pun belum. Saat itu aku berpikir jika aku menerima cowok lain dalam hidupku artinya aku mengkhianati Wiandra padahal cowok itu pun belum tentu mengingatku.
            Bryan mengerti saat aku menolaknya, selain karena Wiandra kami juga belum pernah bertemu sebelumnya. Begitupun  ia juga tak pernah bisa berhenti mencintaiku. Dia terus menungguku , hingga dua tahun kemudian dia kembali menyatakan perasaannya yang tulus padaku. Teman-temanku bilang kenapa aku tak mencoba saja membuka hatiku padanya. Lagipula dia begitu baik , sabar dan pengertian. Nggak ada cowok yang sanggup mendengar kisah cinta gadis yang dicintainya. Tapi Bryan selalu mendoakan agar aku bisa bertemu lagi dengan Wiandra. Meski sampai sekarang Wiandra bagai hilang lenyap di telan bumi sejak tiga belas tahun yang lalu.
            Suatu keajaiban diberikan Tuhan padaku suatu saat ketika aku kehilangan kabar dari Bryan, hampir enam bulan tak ada kabar darinya. Dan perasaan kehilangan membuatku gelisah dan berharap. Dan tiba-tiba saja ia menelponku di suatu malam dan aku menangis karena bahagia bisa kembali mendengar suaranya.
            Tiba-tiba saja aku merasakan perasaan yang sudah tiga belas tahun tidak kurasakan . Hatiku berdebar dan darahku berdesir saat ia menyatakan rindu dan cintanya. Dan kini, sudah dua tahun ia menjadi kekasihku. Meski baru sekali ini dia datang padaku, namun ia telah menunjukkan keseriusannya pada kedua orang tuaku. Ia ingin menjadikan aku istrinya.
            “Hei Honey, i think this is  good for you.” Bryan menunjukkan sebuah gaun hitam untukku.
            “You have to try, i like to see you with this gown. You must be so beautiful.” 
            “Or may be am i ?” Dia mengangkat gaun itu ke atas bahunya dan bergaya seperti seorang wanita.
            Aku memukul perutnya yang mulai kelihatan berlemak sambil tertawa. Dia juga tertawa dan memelukku. Kemudian menemaniku ke kamar ganti.
            “Ok, i will try first. Don’t go anywhere ok.”
            “Yes Maam.”  Kembali dia membuatku tertawa.
            “Bryan...” Aku keluar dari kamar ganti dengan gaun hitam yang kucoba.
            “Perfect!” Ucapnya memujiku.
            Setelah berganti kembali dengan baju yang kupakai saat datang tadi aku keluar dari kamar ganti, tapi aku terpaku saat melihat seorang lelaki juga keluar dari kamar ganti sebelah.
            Wi...tak sadar aku menyebut nama itu. Meski sudah tiga belas tahun berlalu namun aku masih bisa mengingat jelas pada  mata bulat yang selalu memandangku ramah. Dan juga tahi lalat yang menempel di kening kirinya.
            Aku hampir limbung, tapi untunglah Wiandra dan juga Bryan dengan sigap menopangku.
            “What happened Honey?” Bryan tampak khawatir padaku. Sedang mataku tak lepas memandang Wiandra. Aku takut tak dapat melihatnya lagi seperti tiga  belas tahun yang lalu. Aku tak ingin ia menghilang dari pandanganku.
            “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Wiandra sama khawatirnya.
            “Tidak, aku hanya...”
            “Sorry i have to take her to the doctor.” Bryan sungguh-sungguh khawatir tampaknya segera ia memelukku dan menggendongku.
            “Please Bryan, no need.”  Aku meronta saat ia  menggendongku.
            “But...”
            “Ok, we go home now.” Ucapnya setengah memaksa meski aku menolak.
            Dengan enggan aku mengikuti langkah Bryan di sampingku. Air mata hampir menetes menahan perasaan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Entah apakah aku masih bisa bertemu dengan Wiandra atau tidak.
            “Honey, are you ok?” Bryan menyentuh wajahku lembut saat kami berada di dalam mobil.
            “I’m fine, don’t worry.”
            Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan perjumpaanku dengan Wiandra. Entah apakah ia masih mengingatku atau tidak. 
            Aku terkejut melihat Bryan masih berada di balkon di lantai dua ketika aku ingin mengambil segelas air di dapur. Padahal hampir jam satu pagi.
            “Bryan...” Lelaki itu menoleh dan tersenyum padaku.
            “Why you haven’t sleep , it’s  late now.”
            “I just worry about you, thats why i can’t sleep.” Dia memandangku. Selalu saja ia terlalu berlebih mengkhawatirkan diriku, bahkan pernah sekali saat aku  mengatakan sakit maag-ku kumat ia menelponku tiga kali dalam sehari. Padahal aku tahu sambungan jarak jauh pasti mahal sekali.
            “I’m fine Bryan, dont worry about me. I can take good care of myself.” Aku menghiburnya.
            “I love you, Honey.” Dia mencium tanganku dan membawaku dalam pelukannya. Entah apa yang dirasakan di dalam dada lelaki ini, inginnya aku menyelam ke dasar hatinya. Sejujurnya aku tak pernah mengerti mengapa dia bisa jatuh cinta begitu dalam padaku.Bahkan jauh sebelum kami bertemu.
            Keesokan paginya setelah sarapan sebentar, tante mengatakan ada telepon untukku. Dan aku sangat terkejut saat mengetahui siapa penelpon itu.
            “Aku Wiandra, senang dapat kembali melihatmu.” Ucapnya padaku.
            “Tapi..dari mana kau tahu nomor telepon di sini?”
            “Aku mengikutimu kemarin. Apakah yang kemarin itu adalah pacarmu atau suamimu?”
            “Oh Bryan, dia...”
            “Aku tak ingin tahu tentangnya Karin.” Wiandra berkata, membuatku bingung. Bukankah tadi dia yang bertanya tentang Bryan.
            “Baiklah,” ucapku akhirnya. “Ng...apakah kamu baik-baik saja selama ini?”
            “Ya, “ sahutnya. “ Kau tahu Karin, aku pernah mencarimu dua tahun setelah kepindahanku. Tapi rupanya kamu sudah pindah.”
            “Papa dipindah tugaskan ke Medan sebelas tahun yang lalu. Dan sampai sekarang kami masih di sana. Ini adalah rumah tanteku.”
            “Ng, apakah kita bisa bertemu, sebentar saja.” Ada harap di suaranya dan aku tak ingin mengecewakannya. Aku..aku juga berharap dapat melihatnya lagi.
            “Aku tahu kau suka sekali pizza kan ,  jadi kita bertemu di sana jam dua belas siang. ”  Dia berkata.
            Aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi bagaimana dengan Bryan? Aku tak mungkin meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Ia pasti akan bertanya ke mana aku pergi.
            “Tapi..”
            “Ayolah Karin, setelah tiga belas tahun, tidak bisakah memberi waktu sedikit untukku?” Wiandra setengah memaksa.
            “Baiklah Wi, aku akan datang.” Akhirnya aku memenuhi permintaannya.
            “Who’s that Hon, from your parents?” Tiba-tiba saja Bryan duduk di sampingku.
            “Eh..yeah. My mom called me just now.” Kebohongan pertama yang kulakukan pada Bryan. Selama sepuluh tahun , tak pernah ada yang kusimpan darinya. Tapi hari ini , karena seorang Wiandra aku telah membohongi Bryan.
            “Bryan, i have to meet my ex classmate  this afternoon. “ Bilangku tanpa berani menatap matanya.
            “Good, so what time we will go ?” Dia tampak semangat.
            “Only me Bryan, i will go alone.” Ucapku sambil memberanikan diri menatapnya.
            “Well...” Aku melihat keheranan dan kekecewaan di matanya. “May be you guys haven’t met for long time and need times for talk. So i have to allow you then.”  Akhirnya dia berucap.
            “Thanks Bryan.” Aku tersenyum gembira.
            “By the way Bryan, i will ask Made to accompany you when i’m not around. ” Aku tak ingin Bryan kesepian dan bosan di rumah. Aku akan meminta sepupuku untuk menemaninya selama aku tidak ada.
            Aku berdebar saat taxi yang membawaku sudah berhenti tepat di depan PIZZA HUT. Perlahan aku melangkah masuk.
            Seulas senyum milik Wiandra menyambutku, mata bulatnya berbinar di timpa cahaya remang-remang lampu di sudut ruangan itu.
            “Aku senang kau datang Karin.”  Wiandra membawaku duduk di sampingnya. 
            “Mau pesan  apa Rin?”
            Aku menggeleng. Rasanya kebahagiaan bertemu Wiandra dan rasa berdosaku karena membohongi Bryan telah melenyapkan selera makanku.
            “Jangan bilang kalau kamu sedang diet.” Aku kembali menggeleng.
            “Hanya sedang tidak selera Wi, tapi aku ingin pesan ice lemon tea.” Ucapku.
            Setelah  memesan senampan pizza Wi memandangku lekat. “Kenapa Rin, kok lesu. Apa tidak senang melihatku?”
            Tentu saja aku senang, bahkan sangat senang. Tapi aku tak ingin dia tahu perasaanku. Bisa ge-er dia
Aku tersenyum sebelum akhirnya berkata,” Bagaimana keadaanmu Wi, pacar atau istrimu?”
“Kamu bertanya atau menyindir nih?” Dia tersenyum. “Aku hampir gila memikirkan kamu, nggak sempat mikirin yang lain Rin.”
“Mungkin nggak seperti kamu ya?” Kali ini dia yang benar-benar menyindirku.
“Honey, mesra sekali cara panggilnya.” Ucapnya lagi .
“Sudahlah Wi, kau ingin aku pergi dari sini?” Aku mengambil tasku, tapi dengan sigap ia meraih tanganku.
“Maaf, aku ...aku hanya cemburu dan marah pada diriku. Aku marah karena ternyata kamu nggak pernah mikirin aku sedang aku...” Dapat kulihat luka di matanya.
Tuhan, seandainya ia tahu aku juga selalu menunggu dan memikirkannya hingga saat ini. Segores luka memerihkan hatiku. Mengapa, mengapa tidak berjumpa sebelum Bryan datang. Mengapa harus sekarang, saat aku sudah menjadi milik Bryan.
Akhirnya Wiandra tidak menyentuh sedikitpun pesanan makanannya. Ia bercerita ketika ia dan keluarganya tinggal  di Jerman ia selalu rindu padaku. Tapi sialnya sebuah koper di mana ia meletakkan semua barang yang mengandung nilai historis tentang kebersamaan kami hilang saat transit di Singapura. Begitupun alamat dan nomor teleponku. Saat kembali dua tahun kemudian, aku sudah pindah. Ia sudah mencari informasi mengenai diriku pada teman-teman, tapi tidak ada yang tahu. Memang saat itu kepindahanku pun mendadak, hingga tak sempat memberitahu teman-temanku. Hanya pada Ratna saja sahabat baikku. Tapi setelah setahun kepindahanku ke Medan , ia melanjutkan sekolah di Malaysia.
“Maafkan aku Wi.” Hanya itu yang dapat kuucapkan. “Aku bahkan berpikir mungkin kamu yang melupakan aku.” Aku menunduk.
“Katakan Karin, masihkah ada aku di hatimu? Masih adakah kenangan kita yang tersisa di benakmu?” Dia memandangku.
Kenangan demi kenangan bersama Wiandra saat dulu kembali berputar. Aku ketua OSIS dan Wiandra cowok badung di sekolah selalu saja bermusuhan. Setiap bertemu muka selalu buang pandang. Itu semua karena dia yang selalu mencela apa saja yang kulakukan bersama teman-temanku.  Saat aku mengurus mading sekolah dia juga complain karena menurutnya bahan yang disajikan itu-itu saja. Saat itu aku tersinggung, “Dasar elu aja yang nggak pernah baca, pake protes segala. “
“Kalo lu emang hebat, tunjukkin dong hasil karya elu, jangan bisanya complain doang.” Sahutku nyaring sambil menyindirnya. Teman-temanku yang mendengar tersenyum. Tapi dia juga nggak mau kalah.
“Ini..jangan sampe nggak ditempelin loh, gue sengaja nulis buat seseorang.” Esoknya dia menyerahkan sebuah puisi padaku.
“Cuit-cuit, bisa juga lu bikin puisi. Ato jangan-jangan ini hasil kopekan.” Lagi-lagi aku menyindir . Herannya kali ini dia sama sekali tidak mengeluarkan suara.
“Tapi nggak papa deh, dari pada isi ati lu nggak kesampean, gue bakal tempel karya lu di mading.”Ucapku saat melihatnya masih diam.
Saat aku membaca puisi yang digoreskan di lembar kertas surat aku dapat melihat ketulusan di dalam tulisannya.

Maaf...

Itu yang sering ingin kuucapkan

Saat aku membuatmu kesal,

Saat aku membuat senyummu memudar


Maaf...
karena ada rasa yang tak layak hadir untukmu
Saat aku melihat binar di kedua mata bulatmu
Yang mengalirkan desiran halus di setiap nadiku

Maaf...
Hanya kata itu yang terucap
Karena aku tak bisa menutupi rasa yang kini ada
Kalau aku suka kamu....
                                                            AWIANDRA


Aku mencuri pandang  ke arahnya yang berkumpul tak jauh dengan teman-temannya di dekat kantin. Dan wajahku memerah karena ketahuan olehnya.
“Itu khusus untukmu.” Suaranya mengejutkan  saat aku hendak meninggalkan sekolah siang itu . Dia berdiri di dinding gerbang sekolah.
Aku memandangnya tak mengerti. “Puisi itu untukmu.” Lanjutnya tanpa berani memandangku.
Agak kaget juga dengan pengakuannya, tapi akhirnya aku tersenyum,”Kalau begitu antar aku pulang.” Sahutku sambil melanjutkan langkahku.  Dan desiran yang sama kurasakan saat ia meraih jemariku dan menggandeng tanganku.
Dan seperti yang kuduga, teman-teman satu sekolah menjadi heboh dengan kedekatan kami.
“Karin, katakanlah, apakah rasa itu masih ada untukku?” Pertanyaan Wiandra menyadarkan aku dari lamunan panjangku. Aku hanya bisa menunduk.
“Indah bukan, jika saja hari-hari ke depan bisa kita lalui  bersama.”  Wiandra menatapku. 
Aku menghela nafas panjang, mengapa hati dan pikiranku tiba-tiba terasa begitu lelah.
“Wi, aku harus pulang sekarang.” Kataku tanpa menjawab pertanyaannya. Sudah satu jam lebih aku bersama dia di sini.
            “Apakah dia menunggumu di rumah?”
            “Kumohon Karin, temanilah aku sebentar lagi. “ Pinta Wiandra. Aku memandang wajahnya. Tuhan, betapa aku rindu padanya tapi bagaimana dengan Bryan, dia pasti sangat  khawatir padaku.
            Dan tiba-tiba saja ponselku berbunyi, “Ha...hallo.” Aku menjawab telepon Bryan dengan gugup.
            “I’m with friend now, yeah, i will eat well don’t worry.” Jawabku saat ia bertanya di mana aku dan berpesan padaku untuk makan siang. Dia tahu kalau aku sering bermasalah dengan maag-ku. Kadang aku merasa perhatian Bryan terlalu berlebihan padaku.
            “Does Made accompany you there?”
            “Yeah , we will go out for amoment.” Sahut Bryan senang, tampaknya dia menikmati waktu bersama Made, syukurlah.
            “Dari kekasihmu?”
            “Ya.”
            “Apakah dia mencintaimu?”
            “Sangat.” Ucapku tanpa bermaksud menyakitinya.
            “Seperti aku?” Wiandra menatapku.
            “Sudahlah Wi, bisakah kita tidak membicarakan hal itu lagi?”
            “Tapi Karin, aku yakin kalau kau masih mencintaiku.” Wiandra meraih tanganku.
            Dan karena aku masih mencintainya, aku akhirnya mengiyakan ajakannya untuk menemani dia ke Tanah Lot. Senyum dan tawa yang kurindukan selama tiga belas tahun  kini kembali terlihat dan Wiandra selalu saja berusaha membuatku teringat pada kebiasaan kami dulu.  Menawar barang tapi tak pernah berniat membeli.
Dan saat Wiandra memesan es jeruk  dan bakso untuk kami berdua, aku kembali terkenang saat sekolah dulu. Setiap Sabtu sekolah bubar lebih cepat dan kami serta gengnya selalu menyerbu warung bakso pak Irjo.
            Kini aku dan dia kembali terlihat seperti remaja. Bahkan mungkin orang-orang sekitarpun memandang heran pada tingkah kami. Saat seorang anak lewat di depan kami dengan setumpuk kartu pos di tangannya ia memanggil. Kupikir ia hendak mengerjai anak itu tanpa bermaksud membeli. Tapi rupanya ia sungguh-sungguh, malah memberi uang lebih pada bocah kecil itu.
            Kulihat ia menuliskan sesuatu di salah satu lembar kartu pos itu.
            Cintaku masih seperti dulu
            Rinduku masih selalu utuh
            Dan harapku...
            Akankah menjadi awan kelabu?

            “Untukmu.” Dia menyerahkan kartu pos itu padaku.  Aku menunduk saat membacanya.
            “Meskipun jawaban itu mengecewakan, aku ingin mendengarnya dari bibirmu Karin.” Wiandra memandangku.
            “Aku tak tahu harus menjawab apa Wi.”
            “Apakah kau mencintainya?” Kembali aku tak bisa menjawab pertanyaannya.
            Apakah aku mencintai Bryan? Aku juga tak mengerti hatiku. Yang aku rasakan saat bersama Bryan, adalah rasa bahagia dan senang diperhatikan olehnya. Kadang sikapnya menghadirkan debar dan desiran aneh di hatiku. Mungkin itu cinta, tapi benarkah...? lalu apa yang kurasakan sekarang ini pada Wiandra?
            “Aku harus pulang sekarang.” Aku melirik jam di tanganku.
            “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang.”
            Aku dan Wiandra diam membisu selama perjalanan. Suara kelompok MLTR dengan lagu Ghost of You menjadi teman perjalanan kami.
            “Lagu ini seperti diriku Karin, yang nggak bisa mengusir bayanganmu. Aku sendiri pun tak mengerti mengapa.”
            Aku menarik nafas panjang saat mendengar perkataannya.  Untunglah Ghost of You sudah selesai dinyanyikan.
            “God Honey, you make me worry.”  Bryan menyambutku.
            “Karin, kenapa tidak mengaktifkan ponselmu?” Made menegurku. “Kau tahu  jam berapa sekarang?”
            “Maaf Made, ponselku tidak ada baterai . Lagipula aku kan sudah bilang kalau aku pergi dengan temanku.”
            “Ya, tapi kau tahu Bryan bukan main mencemaskanmu.” Made kembali mengomel.
            “Ah dia itu, selalu saja menganggap aku seperti anak kecil.”
            “Bukan begitu Rin, itu karena dia sayang kamu.” Kali ini Mbak Ida Oka menyahut. Entah dari mana ia muncul.
            “Katakan padaku siapa laki-laki yang mengantarmu itu?” Aku pura-pura tak mengerti. Tapi akhirnya tak bisa mengelak karena Mbak Ida melihatku bersama Wiandra.
            “Dia temanku Mbak.”
            “Tapi kenapa kok perginya lama banget, cuma berdua lagi. Mbak pikir kamu pergi dengan teman perempuanmu. Lain kali kau harus mengajak Bryan juga.”  Ucap Mbak Ida.
            Keesokan harinya Wiandra kembali menghubungiku dan memintaku untuk menemaninya. Meski tak tahu harus mencari alasan apa lagi pada Bryan, tapi akhirnya kuiyakan juga ajakannya.
            “Aku tahu kau tak akan menolak permintaanku.”  Ucapnya saat keesokan harinya kami bertemu di pantai Kuta.
            “Kau tahu aku telah berbohong banyak padanya.” Aku menatap laut yang menanti senja.
            “Ya, dan aku tahu mengapa.”  Ucapnya .Sekilas kupandang wajah Wiandra. Ada kebahagiaan yang kulihat di sana.
            “Kau tahu, aku ingin setiap hari menunggu senja berdua denganmu.” Wiandra memandangku sambil tersenyum lembut. Sekali lagi aku menghela nafas berat.
            Malamnya saat aku tiba di rumah, aku melihat Bryan sedang merokok di balkon lantai dua. Buru-buru aku menghampirinya, meraih rokok yang ada di bibirnya dan melemparkannya jauh.
            “Why, u never like this before?” Aku  menatapnya. Suntuk sekali wajahnya.
            “You never like this too before. Go alone and  home so late...”
            “ Bryan, i’m not alone. I went  with friend.”
            “But you never let me know your friend. He is a man, right? Thats why you never let me know. “
            “No. “ Aku mencoba membela diri.
            “But i saw you with a man Karin, you’ve lied to me.”  Ada luka yang kulihat di matanya.
            “We have to get back to Medan tomorrow.” Ucapnya sambil meninggalkan aku sendiri.            Aku terpaku di tempatku. Kusadari sejak bertemu dengan Wiandra aku telah mengabaikannya bahkan membohonginya terus menerus.
 Malam terasa amat panjang dan melelahkan. Tapi entah mengapa mata ini masih tak bisa dipejamkan. Saat hendak mencari angin di balkon, lagi-lagi aku melihat Bryan duduk termenung sendiri sambil mengisap rokok. Selama ini aku tahu dia tak  pernah merokok. Lihatlah, ia bahkan tersedak karena asap yang terlalu banyak diisapnya.
            “Bryan, “ aku mengelus pundaknya. Kembali aku membuang rokoknya.
            Dia memandangku dengan mata coklatnya yang lembut.
            “Honey, do you really love me?” Tanyanya, aku tahu ia tidak meragukan diriku. Yang ia ragukan adalah dirinya  tidak bisa membuatku jatuh cinta padanya, begitulah yang ia katakan saat aku bertanya mengapa ia tanyakan itu padaku  suatu hari saat aku bercerita kalau aku bermimpi tentang Wiandra. Perlahan air mataku merebak. Aku tahu aku telah menyakiti dan mengkhianatinya.
            Meski tak banyak kenangan yang aku lalui bersama Bryan, namun cintanya yang tulus telah memberiku kekuatan. Perhatian dan rasa khawatirnya kadang membuatku sebal, tapi saat aku memandang wajahnya yang lega ketika aku ada di  hadapannya, aku tahu itu semua karena cintanya yang dalam padaku.
            “Yeah, i do love you Bryan..” Dengan air mata aku menjawabnya. Aku ingin memberi seluruh cinta yang tersisa ini padanya. Bryan memelukku erat.
            “I’m sorry for the things i have done. I promise will not do it again.”  Ucapku .
            “It’s ok Honey, i understand you.” Bryan mencium keningku dan memelukku lebih erat lagi.
            Wiandra kembali mengajakku bertemu keesokkan sorenya.  Tapi dia terkejut saat aku datang bersama Bryan.
            “Kami akan pulang besok. Sebenarnya hari ini,  tapi Bryan  ingin berkenalan denganmu.”  Akhirnya mereka berkenalan.  Tapi setelah itu Bryan memberiku waktu untuk berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Wiandra.
            Tak banyak yang kami bicarakan sore itu, Wiandra lebih banyak diam. Sesekali ia memandangku tapi aku pura-pura tak melihat. Dan saat mata kami bertemu untuk yang terakhir kalinya aku melihat luka yang dalam di hatinya.
            “Maafkan aku Wi.”  Ucapku sambil menunduk. “Tapi semuanya sudah terlambat.”
            “Aku harus pergi. Bryan sudah menungguku.” Aku memandang Bryan yang menungguku sambil berjalan menuju pantai.  Aku melangkah meninggalkan Wiandra, dan air mata menjadi teman saat aku  melangkah menuju pantai.
            Bryan menghampiriku dan memelukku. Ia memberiku kekuatan yang kubutuhkan. Di dadanya kutumpahkan tangis dan kesedihanku. Sekali lagi aku harus kehilangan Wiandra.
            “Honey, if you can’t let him go...i will allow you with him.”  Dia berkata sambil menghapus air mataku.
            “No.” Aku menggeleng.
            “Honey, i love you and i don’t want to make you cry.” Kembali dia berkata.
            “I will cry if you say that again.”  Aku menjawab sambil memandangnya.
            “Oh Honey, you know how much i love you.”  Dia membawaku dalam pelukan eratnya.
            “I love you too.”  Aku membalas pelukannya.
            Dan senja di Kuta Bali menjadi saksi kesedihan dan juga kebahagiaan yang kurasakan saat ini. Semoga Wiandra dapat melupakan aku dan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.
           

KETEGARAN HATI


Helmy Fenisia
            Aku menatap abu bekas sisa pembakaran dari semua foto dan surat Darren. Tak ada tangis atau kesedihan yang kurasa. Aku malah bangga dengan diriku yang begitu tegar dan kuat menghadapi kesedihan karena dihempas dan dilukai oleh Darren. Selama sepuluh tahun dia ada dalam hidupku dan kini tiba-tiba menghilang tanpa kutahu sebab  mengapa ia menjauh. Harusnya hal itu membuatku sedih, tapi entahlah, mungkin hatiku yang terlalu keras atau perasaan ini sudah mati  hingga aku berpikir kalau Darren tak pantas kutangisi.
            Kenangan selama sepuluh tahun, sms yang kutuliskan di diary agar bisa kubaca setiap saat aku merindukannya…semuanya bagai tak berarti , meski kadang ada waktu di mana aku tak bisa lari dari bayangannya, dari kata manisnya, dari suaranya, dan dari semua yang pernah tercipta selama sepuluh tahhun ini, namun aku berusaha untuk tidak terjerembab dan jatuh hingga  membuatku semakin terluka.
            Ketika pikiran membawaku padanya, secepat mungkin aku berpaling dan menjauh. Mencari kesibukan dan menguatkan hati untuk tidak melihat ke masa lalu. Ironisnya, dia yang mengajarkan aku untuk melupakan orang yang pernah dekat dengan
ku kini aku  yang harus belajar melupakannya.
            Sejujurnya, kadang aku ingin menangis dan menumpahkan kesedihanku, namun air mata seperti mengendap  dan kesedihan ini kusimpan dalam diam. Seorang sahabat menganggap aku orang yang paling tak bermasalah.
Kuakui ketika dalam kesusahan yang bagaimana pun, aku tak bisa membiarkan orang melihatku bersedih. Saat susah aku  tersenyum, saat senang aku tertawa. Pernah bertanya pada diri sendiri masih normalkah aku? Seandainya bisa menangis mungkin lebih baik., tapi ketika air mata mulai menetes, ketika itu pula ia mengering.
            Kupikir ada baiknya jika aku menangis dan menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dadaku  maka aku akan lega. Sayangnya aku tak mampu melakukannya. Lagi-lagi yang kurasakan hanyalah sakit dan luka yang semakin dalam. 
            Ketika kerinduan sejenak datang mengusik , seketika itu juga aku sadar dia tak lagi ada untukku. Jadi tak perlu lagi dipikirkan. Lihatlah ke masa  depan, pada cita-cita dan impian. Ya, memang itulah yang harus dan akan  aku lakukan. Melupakan sakit hati dan kecewa, membuang asa dan kenangan yang pernah ada. Meraih cita-cita dan menjadi wanita yang tegar.
            Hidup bukan melulu oleh cinta, meski tanpa cinta kita  mungkin  merasa tidak bermakna , namun aku ingin meraih cita lebih dulu dan  melupakan sejenak cinta. Toh bila memang ia ada untukku, cinta akhirnya akan datang menyapa.


Sabtu, 23 April 2011


ANTARA CINTA, PETE dan JENGKOL

By : HELMY FENISIA
Hari masih terlalu pagi untuk direnungi, tapi tidak bagi Kiara. Di usianya yang hampir tujuh belas sebulan  lagi dia masih belum menemukan tambatan hati. Hhhh..
Gadis itu menarik nafas panjang. Victoria, sahabatnya yang baru masuk kelas langsung menghempaskan tubuhnya ke bangku.
            “Hei, pagi-pagi sudah bengong. Kenapa sih?” Tegur Victoria begitu duduk di sebelahnya.
            “Sudah hampir tujuh belas tahun, tapi belum punya gebetan. Bagaimana ini Ri?” Kiara balik bertanya. Victoria tersenyum.
            “Itu toh masalahnya. Kirain tadi kenapa?” Victoria menggeleng.
            “Kamu sih, kuper! Main kek ke kelas sebelah. Tepe-tepe alias tebar pesona. Jangan di kelas terus!”
            “Kamu kan tahu Ri, aku enggak suka keluyuran kalau tidak ada tujuan. Lagipula alasan aku apa coba kalau ke kelas sebelah? Anak IPS ke kelas IPA, ngapain?” Kiara memandang sahabatnya.
            “Idih, bolot kok dipelihara?! Di sana kan ada Lara, anak satu kompleks kamu. Pura-pura saja ajak pulang sama-sama. Gampang kan?” Sahut Victoria.
            “Lalu?”
            “Ye, masih minta diajari! Ya kamu tebar pandang, cari yang pas lalu pasang senyum. Kau tahu kan kalau anak IPA keren-keren? Jago olah raga lagi, tidak kayak anak kelas kita. Payah!”
            “Benar juga ucapanmu. Seminggu lalu, aku permisi ke toilet waktu pelajaran Pak Simbolon. Kebetulan anak IPA sedang olah raga. Aku lihat dari jauh kalau Elang, kapten basket sekolah kita sedang melakukan shot yang bagus kali.”
            “Makanya, rugi kalau kamu cuma di kelas pas istirahat atau ke perpus.” “Habis, aku kan bawa bontot dari rumah sih Vic. Sayang kan kalau tidak di makan?”
            “Ampun Kiara,  kamu kan bisa numpang makan di kantin. Kalau kamu takut Bu Mar keberatan, ya kamu beli minuman di kantin. Jadi tidak cuma numpang duduk!”
            “Kukasih tahu ya, waktu istirahat itu waktu yang paling tepat buat kita untuk tepe-tepe. Lagi pula kita bukan saja bisa cuci mata dengan melihat cowok yang setingkat dengan kita. Tapi banyak juga kakak kelas yang wara-wiri di kantin. Jadi kesempatan makin banyak untuk cari yang the best.”
            “Ya, sudah. Aku ke sebelah ya, mau setor muka dulu sama Bintang.” Victoria berlalu untuk menemui pacarnya di IPA II.
            “Ada apa Vic, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Kiara ketika sahabatnya sudah kembali ke kelas karena lonceng pelajaran pertama sudah terdengar.
            “Tadi aku bilang ke Bintang, buat kenali kamu sama Elang. Dia juga masih jomblo. Kamu mau kan?”
            “Tapi Vic?”
            “Sudah, kau tenang saja. Biar kami yang atur kelanjutannya. Pokoknya pasti siplah.” Victoria mengangkat jempol tangannya.
            Sabtu siang ketika Kiara santai menikmati novel yang baru dibelinya, telepon genggamnya tiba-tiba berdering.
            “Ki, nanti sore kamu dandan yang cantik ya. Kita double date.” Suara Victoria terdengar ceria.
            “Aku akan ke rumahmu pukul enam. Bintang akan jemput kita di rumahmu dengan Elang pukul  setengah tujuh. Setelah makan malam, kita nonton.”
            “Tapi..”
            “Sudah, tak ada tapi-tapian!” Telepon terputus tanpa basa-basi.           
Pukul empat, Kiara berdiri di depan lemari pakaiannya. Ini kencan pertamanya dengan seorang cowok. Dia harus kelihatan menarik.
            Baju baby doll hadiah dari Tante Mirna dari Singapore menjadi pilihannya. Baju berwarna kuning dengan motif bunga lily dipadu dengan celana lagging berwarna hitam. Sederhana, namun membuatnya kelihatan manis, begitu komentar mama.
            Pukul enam Victoria tiba, Kiara yang sudah siap berdandan menyambutnya.
            “Astaga Ki, kau benar-benar tampil beda. Cantik!” Puji sahabatnya.
            “Yang benar, Ri?” Gadis itu mengangguk.
            “Kira-kira Elang suka tidak ya?” Kiara bertanya sambil memandang sahabatnya.
“Aku yakin Elang pasti suka.” Keduanya lalu menuju kamar Kiara di lantai dua.
Seperti biasa, apa lagi yang dilakukan dua orang remaja putri kalau bertemu selain gossip tentang cowok. Apalagi hari ini Kiara akan kencan dengan Elang, kapten basket sekolah mereka.
            “Menurutmu Ki, Elang itu bagaimana orangnya?” Tanya Victoria.
            “Kalau dari tampang sih, memang keren. Prestasi juga baik, selain itu aku tidak tahu.” Kiara mengangkat bahu.
            “Aku dapat bocoran nih dari Bintang.” Bilang Victoria.
            “Apaan?”
            “He..he..he…ternyata tuh, si Elang diam-diam suka sama kamu.”
            “Ah, yang benar Ri? Masa sih, kenal saja tidak.  Kan  tidak pernah sekelas sejak dia masuk di sekolah kita?”
            “Iya sih, tapi Bintang bilang Elang pernah lihat kamu waktu di perpus pas dia mau pinjam buku. Katanya kamu serius sekali waktu itu, dia cuma bisa pandangi wajah kamu dari jauh, enggak berani negur.” Wajah Kiara bersemu merah.
Apa benar, Elang suka dia? Terus, kapan cowok itu melihatnya di perpus. Kok aku tidak tahu ya? Tanya gadis itu dalam hati.
            “Aku jamin, malam ini bakal jadi malam special buat kalian. Tapi ngomong-ngomong kamu suka tidak pada Elang?”
            “Kalau itu sih, aku belum bisa jawab Ri. Cuma aku suka lihat dia kalau lagi tanding. Semangatnya bisa menular ke teman-teman lain.”
            Bunyi klakson terdengar. Kiara merasa dadanya berdebar tak karuan. Rasanya kakinya lemas ketika berjalan menuju halaman rumah.
            “Hai, girls.” Sapa Bintang begitu keduanya muncul.
            “Kenalkan, Elang. Kapten basket kita. Lang, ini pacarku, Victoria dan sahabatnya Kiara.” Bintang mengenalkan ketiganya.
            “Hai, senang berkenalan dengan kalian. Terutama Kiara.” Elang tersenyum penuh arti.
            Setelah kenalan mereka berangkat. Menuju resto favorit tempat kencan Bintang dan Victoria. Untungnya Bintang, Elang dan Victoria hobby ngelawak. Jadi Kiara bisa merasa santai dan tidak terlalu kaku. Setelah makan mereka nonton.
            Malam minggu itu menjadi malam  yang mengesankan bagi Kiara. Apalagi Elang memperlakukannya dengan sangat manis. Meski belum mengatakan cinta, tapi Elang berharap akan ada kencan selanjutnya. Tapi hanya mereka berdua. Dia dan Kiara.
            Malam minggu berikutnya Elang menjemput Kiara, tanpa ditemani Bintang apalagi Victoria. Kali ini benar-benar kencan mereka berdua.
            “Kau belum makan, kan?” tanya  Elang ketika Kiara sudah ada di mobilnya.
            “Belum.”
            “Di jalan Santana, ada warung lesehan yang baru buka dua bulan lalu. Kata teman-teman suasananya enak, menunya juga aneka ragam. Kau tidak keberatan kan kalau kuajak ke warung lesehan?” Elang memandangnya.
            “Tidak, justru bagus, jadi bisa hemat. Lagipula kalau lesehan pastinya makanan tradisional dan banyak pilihan.” Ucap Kiara.
            “Baguslah, tadinya aku ragu mau ajak kamu ke sana. Ada loh, cewek yang sok gengsi tidak mau makan di warung lesehan.” Bilang Elang.
            Lima belas menit akhirnya mereka sampai. Warung yang menjual nasi dengan berbagai lauk pilihan.
            Si pelayan menyodorkan menu ketika mereka memilih meja di sudut ruangan. Duduk bersila di atas tikar ditemani lampu semprong. Suasana beda yang cukup menyenangkan.
            Kiara memilih nasi uduk berikut ice lemon tea. Sedang Elang,
            “Mbak, aku minta nasi goreng pete. Petenya banyakin ya.”  Ucap cowok itu sambil menyodorkan daftar menu kepada pelayan yang berdiri di sisinya. Kiara kaget. Gila! Cowok seganteng Elang makan pete? Ih! Amit-amit!
            “Oh ya, minumnya sama dengan mbak ini saja. Ice lemon tea.” Ucap Elang lagi.
            “Kenapa?” Tanya Elang  melihat perubahan wajah Kiara.
            “Tidak. Suasana di sini menyenangkan ya? Pantasan ramai.” Kiara memandang sekeliling. Menyembunyikan perasaan hatinya.
            “Ya. Makanannya juga enak.”
            Sepuluh menit kemudian , pesanan mereka sudah ada di meja. Nasi goreng pete pesanan Elang benar-benar penuh pete. Ini nasi goreng pete, atau pete goreng pakai nasi ? Pikir Kiara dalam hati.
            Lahap cowok itu menyantapnya. Perut Kiara mual melihat pete-pete yang masuk ke mulut Elang. Cowok itu dengan lincah menggigitnya. Seperti makan kacang saja layaknya. Tak tahan, Kiara membuang pandang. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.
            “Hei, Ki. Kenapa makananmu dibiarin begitu?” Tegur cowok itu. Kiara berpaling, memandang cowok di depannya.
            “Ng, apa?”
            “Kenapa makananmu dibiarin begitu, tidak enak ya?” Aroma pete yang khas menyembur dari mulut Elang.
            “Ukhhh.” Kiara terbatuk. Segera ia menutup mulut dan hidungnya.         “Kenapa, kamu sakit ya?”  Gadis itu menggeleng. Wajahnya merah.
            “Kiara, kamu tidak apa-apa kan?” Khawatir, Elang langsung duduk di sampingnya dan mengelus punggungnya.
            Maka sempurnalah mual Kiara. Gadis itu hanya bisa menggeleng. Lalu mendorong cowok itu menjauh.
            “Aku mau ke toilet.” Ucap Kiara sambil berlalu.
            Uh…kencanku rusak gara-gara pete sialan itu! Sungut Kiara dalam hati setelah dia keluarkan makanan di perutnya.
            “Kau tak apa-apa kan, Kiara?” Elang memandangnya khawatir.  Untungnya Kiara sudah mengeluarkan jurus jitu untuk menahan nafas.
            “Tidak.”  Gadis itu menggeleng lalu tersenyum. “Mungkin pencernaanku sedikit terganggu.” Jawabnya.
            “Kalau begitu kau harus rajin makan pete. Pete bagus untuk pencernaan, punya khasiat mencegah berbagai jenis penyakit. Seperti, depresi, Anemia, tekanan darah tinggi, sembelit, kegemukan,       luka lambung dan berbagai penyakit lainnya. Pokoknya pete is the best.”  Ucap cowok itu sambil memasukkan dua biji pete dalam mulutnya.  Ih, maniak pete! Sungut Kiara dalam hati.
            Victoria terkekeh ketika Kiara menceritakan kencannya begitu mereka bertemu Senin.
            “Ha..ha..ha..tidak disangka ya, cowok sekeren dan sengetop Elang doyan pete.” Gadis itu terbahak.
 “Aku bisa bayangkan Ki, nasi goreng pete yang kau katakan itu. Gila, kalau aku sih sudah kutinggal dia.”
            “Tapi aku terlanjur suka pada dia Ri, terlepas dari hobby-nya makan pete. Elang cowok yang baik.”
            “He..he..he..kayaknya kau mulai jatuh cinta ya sama si Raja Pete?” Goda Victoria. Wajah Kiara bersemu merah.
            “Kalau begitu ya, tahankanlah bau naga yang bakal dia sembur saat makan pete.” Ucap Victoria lagi-lagi menggoda.
            “Sudah, sekarang kantin yuk! Bawa sekalian bontotmu. Aku ke sebelah dulu cari Bintang biar kita makan sama-sama.”
            Elang baru selesai ganti pakaian olah raga ketika Bintang, Victoria dan Kiara menuju kantin.
            “Hei, aku ikut.” Teriak cowok itu.
            “Kalian di sini saja, biar kami yang antri beli makan. Mau minum apa Ki?” Tanya Elang pada Kiara. Sedang Victoria diurus Bintang, pacarnya.
            “Teh botol saja.” 
            Beberapa menit kemudian dua cowok itu sudah kembali ke meja mereka. Victoria mengulum tawa ketika mata Kiara melotot dan wajahnya meringis melihat di piring makan Elang ada dua tusuk sate jengkol buatan Bu Mar.
            Ya Tuhan…kenapa cowok seganteng Elang kok suka makanan yang bau-bau sih? Keluh Kiara.
            “Nih, buat kamu satu. Dicoba, enak loh sate jengkol buatan Bu Mar.” Elang menyodorkan setusuk sate jengkol ke dalam kotak makan Kiara.
            “Eh, aku…aku alergi jengkol.” Ucap Kiara bohong.  Cepat-cepat mengembalikannya ke piring cowok itu.
            “Alergi? Kok bisa? Sayang ya, padahal enak loh. Oh ya, nasi goreng pete kemarin kau harus mencobanya. Rasanya beda dengan nasi goreng pete yang pernah kumakan sebelumnya. ” Ucap Elang sambil mengunyah jengkolnya.
            Kiara memandang Victoria yang duduk di hadapannya sambil senyum ditahan.
Untunglah  tak lama lonceng masuk sudah terdengar.
            “Huuuh! Aku bisa mati cengap kalau jadi pacar dia Ri!” Keluh Kiara begitu sampai di kelas.
            “Ha..ha..ha..sudahlah Kiara. Take it easy girl. Masa kamu kalah sama pete dan jengkol? Kalau kamu benar-benar suka Elang, pastinya kamu bisa kan terima apa adanya dia? Termasuk makanan kesukaannya yang serba bau itu.”
            “Tapi Ri, kalau tiap kencan dia makan pete atau jengkol bagaimana?”
            “Enggak sampai segitunya kali Ki. Masa sih tiap malam minggu dia makan pete atau jengkol? Memangnya itu ritual buat dapatkan hati kamu? Ada – ada saja.” Celoteh Victoria.
            “Nah, sekarang kamu pikir sendiri, mau lanjut pedekate sama Elang yang diimpikan seantero cewek di sekolah ini. Atau kamu mau mundur cuma gara-gara pete sama jengkol?” Victoria memandang Kiara .
 Gadis itu diam tak berkata.  Dia terlanjur sayang pada Elang, meski belum resmi jadian, tapi perhatian Elang yang khusus padanya membuat dia merasa terbang di awan-awan. Lagipula, dari sekian banyak cewek cantik di sekolah yang suka pada cowok itu, Elang  memilihnya. Gadis yang boleh dibilang sederhana.
Tahu ah, binguuuung!!! Pekik Kiara sambil memukul meja beberapa kali karena kesal. Victoria tertawa, kasihan Kiara. Cintanya harus berhadapan dengan pete dan jengkol. Dasar nasib…..