Selasa, 19 April 2011

MATAHARI, BULAN DAN BINTANG



            Langit senja mulai beranjak pergi dan malam mulai menyongsong gelap. Di kejauhan malam  tampak Bintang sedang mengungkapkan isi hatinya pada Bulan.
“Maaf, kalau aku terpaksa mengecewakanmu.” Bulan menatap Bintang yang berdiri di hadapannya.
            “Mengapa?” Bintang masih menuntut takala Bulan menolak isi hatinya.
            Bulan tak segera menjawab, ia memandang Bintang yang menunggu penjelasan .”Kau sudah tahu bukan?”  Ucap Bulan akhirnya.
            “Karena Matahari?” Bulan tak menjawab. Dia menunduk tak berani menatap mata Bintang yang meredup.
            “Aku tak mengerti mengapa harus Matahari.” Bintang  menatap jauh.
            “Kau dan dia tak pernah bisa bersatu. Aku yang selama ini bersamamu. Menemanimu, bahkan setiap saat. Mengapa harus Matahari dan bukan aku?”
            “Maafkan aku Bintang,” Bulan memegang bahu lelaki yang selalu ada di sisinya.
“Sejujurnya aku sendiri tidak tahu mengapa rasa itu hadir di hatiku. Tapi dengan hadirnya dia dalam hidupku, menyinari diriku dengan sinarnya membuatku merasa berarti.”   
“Begitukah?” Ada luka yang terpancar di mata Bintang. Luka itu membuat Bulan juga merasakan sakit yang sama. Apa mau dikata, hatinya telah terlanjur ia serahkan kepada Matahari, meski cowok itu jauh dari sisinya.
            “Jadi apa arti diriku selama ini bagimu?”
            “Haruskah kukatakan kalau kau bahkan lebih berarti dari Matahari? Kau adalah sahabat dan kakakku. Aku tak ingin membuat hubungan kita yang ada menjadi suatu yang lain. Jadi kurasa kau akan mengerti. “  Bulan memandang Bintang.
            “Bagaimana kalau aku ingin menjadikannya menjadi suatu yang lain?”
            “Bintang, cobalah untuk mengerti, meski pun harus mencoba aku tahu itu tak akan berhasil dan hanya akan membawa luka saja. Apa kau mau memiliki diriku , sementara hatiku pada yang lain?”
            Bintang menunduk diam.
            “Kurasa , lebih baik kau pulang dan pikirkanlah tentang hatimu dan hatiku.” Bulan berkata dengan lembut.
Sekejap kemudian Bintang pamit.  Langit yang gelap tak lagi bercahaya dengan kerlip Bintang yang biasanya bersinar dengan riang . Mungkin ia tengah menata perasaannya yang sedang hancur.
            Maafkan aku Bintang, ucap Bulan dalam hati. Ia tahu bagaimana perasaan Bintang padanya. Sejak kanak-kanak mereka sudah bersama, melewati hari-hari dengan canda dan tawa. Bintang juga selalu menjadi pembelanya apabila ada yang mengganggunya. Ia adalah pahlawan yang selalu siap melindungi Bulan.  Tentu saja dia senang. Dia yang terlahir sebagai anak tunggal merindukan kakak yang tidak ia punya. Kehadiran Bintang telah memenuhi kerinduannya.  
            “Matahari, aku rindu padamu,” lirih suara Bulan. Di saat-saat seperti ini ia ingin berbagi dengan Matahari yang selalu siap mendengar keluh kesahnya. Hubungannya dengan Bintang pun tidak pernah ia tutup-tutupi. Jika dia dan Bintang sedang ada masalah maka Matahari adalah penengah bagi mereka. Matahari mendengar dan memberi solusi terbaik baginya. Sikap Matahari yang bijaksana  telah menambah kadar simpati dan cintanya pada lelaki itu. Matahari tak pernah membelanya jika memang dia yang salah. Bulan berharap Matahari ada untuknya saat ini.
            Hai, sedang memikirkan sesuatu?  Tiba-tiba sebuah pesan dari Matahari masuk.
            Hatinya berdesir halus. Matahari selalu saja dapat merasakan apa yang ada dalam  pikirannya. Seolah mereka memiliki ikatan batin yang kuat.
Kenapa berpikir begitu? Ia membalas sms dari Matahari.
Karena aku sangat mengenalmu. Aku dapat merasakan apa yang kau rasakan.
Bulan menarik nafas panjang, haruskah ia mengatakan tentang perasaan Bintang terhadapnya kepada Matahari. Ada beban yang seakan amat menghimpit di rongga dadanya hingga membuatnya susah untuk bernafas.
Jika aku mengatakan suatu hal padamu, janji kau tak akan marah padaku atau pada Bintang?
Aku janji. Tapi boleh aku menebak? Apa telah terjadi sesuatu antara kalian? Matahari membalas sms Bulan.
Tuhan, apakah Engkau telah memberi tahu padanya terlebih dahulu? Getar hati Bulan. Dia tak segera membalas. Haruskah ia memberi tahu Matahari tentang hal ini?
Apa Bintang mengatakan suka padamu? Kembali Matahari mengirimkan sms padanya.
Kau tidak menjawab, artinya tebakanku benar kan?
Tenanglah, aku tidak akan marah atau cemburu jika hal itu benar. Aku tahu hatimu hanya untukku.Benarkan?
Ya. Kali ini Bulan sudah bisa tersenyum  sambil membalas smsnya.
Ak tak menyalahkan Bintang jika dia menyukaimu. Cepat atau lambat aku pikir hal itu akan terjadi. Kalian tumbuh bersama dan selalu bertemu setiap hari. Jadi tidak ada salahnya kalau Bintang menyukaimu. Kupikir kau juga harus bangga karena itu artinya kau sungguh cantik
Oh ya, kupikir aku juga harus bangga karena aku duluan yang memilikimu. Tapi..kau tak akan berubah kan?
Tentu saja tidak. Selama ini kau telah menyinari hidupku dan aku tak akan berarti tanpamu. Balas Bulan sepenuh hati.
Tapi aku khawatir karena Bintang masih belum pulang. Entah ada di mana dia. Bulan mengungkapkan khawatirnya sambil menyibak tirai jendela untuk melihat ke arah kamar Bintang yang masih gelap.
Tenang. Dia akan pulang sebentar lagi. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Matahari menenangkannya.
Sudah malam, lebih baik kau tidur. Esok jika kau melihat Bintang, berilah dia senyum termanismu dan dia akan kembali lagi seperti dulu. Matahari memberi saran.
Baiklah. Selamat malam dan jaga dirimu. Jangan lupa mimpikan aku ya.  Bulan tersenyum membaca pesan terakhir Matahari.
 Malam ini entah mengapa Matahari tak dapat memejamkan matanya. Perasaan Bintang terhadap Bulan sedikit banyak mengganggunya. Meski ia percaya gadisnya tak akan berpaling, tapi jika dibiarkan mungkin Bulan akan luruh juga.
 Selama ini yang ada di sisi Bulan adalah lelaki itu . Dari pagi hingga malam yang dilihat dan dijumpainya adalah Bintang dan Bintang saja. Bagaimana seandainya kalau Bintang semakin gencar mendekatinya, memberikan kebaikan dan perhatian lebih padanya. Tak mungkin hati Bulan begitu keras hingga tidak ada simpati sedikitpun terhadap Bintang.  Dan seandainya Bulan teguh dengan perasaannya, jika setiap hari mereka bertemu hati Bintang pasti tetap tak akan berubah terhadap Bulan. Harusnya aku tak menyarankan Bulan untuk memberikan senyum termanisnya pada lelaki itu , sesal Matahari.. Entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa cemburu. Seandainya ia bisa berada di samping Bulan…
Mungkin Tuhan belum ingin mereka bersatu. Hanya takdir saja yang membuat mereka bisa menjadi sepasang kekasih seperti saat ini. Selama ini  pun mereka jarang bertemu. Hanya sesekali pada jangka waktu yang lama. Bukan dia tak ingin, tapi keadaanlah yang memisahkan mereka.
Matahari tak dapat berbuat banyak karena pekerjaan yang menuntutnya untuk bekerja jauh dari tempat Bulan berada. Mungkin suatu hari nanti ketika ia tak lagi dibutuhkan untuk tugas yang diembannya ia akan menghabiskan waktu bersama Bulan, setiap hari dan selamanya ia ingin berada di sisi gadis itu.
Suara dering selular milik Matahari berbunyi. Nomor tak dikenal, namun akhirnya Matahari menjawab panggilan itu .
“Hallo..”
“Aku Bintang..” Suara di seberang mengenalkan diri.
“Ya, ada apa Bintang?” Matahari berusaha tenang.
“Aku ingin bicara.”
“Bicaralah, aku mendengarkan.”
“Aku menyukai Bulan.”
“Ya, aku sudah tahu.” Matahari menjawab.
“Lalu?” Bintang menunggu respon Matahari.
“Aku tak bisa melarangmu menyukainya. Karena itu soal hati. Aku hanya berharap kau tidak memaksanya.” Jawab Matahari.
“Aku tidak akan memaksanya. Aku hanya ingin dia bahagia. “
“Kau tahu, Bulan adalah gadis yang baik. Ia tak pernah mengeluh kau tidak ada di sisinya,  tapi aku dapat melihat dari sorot matanya. Betapa ia iri melihat pasangan yang berjalan berdua dan  menghabiskan waktu bersama.”
“Ya, aku tahu perasaannya. Aku juga ingin ada di sisinya, meski bukan sekarang.”
“Lalu kapan?”
“Apa selamanya kau ingin membuatnya menunggumu?”
“Tidak. Hanya saja aku tak tahu sampai kapan tugas ini akan berakhir.”
“Kau bahkan tak tahu kapan kau akan mendapat kebahagiaanmu.  Lalu bagaimana kau bisa memberikan kebahagiaan pada Bulan?” Keras suara Bintang menusuk hati Matahari.
Ya, dia sendiri tidak tahu kapan baru bisa menggapai kebahagiaannya bersama Bulan. Tugas yang diembannya menyangkut kepentingan orang banyak. Jika ia berhenti lalu siapa yang bisa menggantikannya?
“Aku ingin kau melepaskan Bulan. Biarkan dia bahagia.” Bintang berkata sekali lagi.
“Apa dia pernah mengatakan padamu kalau dia tidak bahagia bersamaku?” Matahari bertanya dengan tenang.
“Aku tak akan melepaskannya , sampai Bulan meminta sendiri padaku.” Matahari berkata tegas.
Tak lama telepon terputus.  Matahari  terduduk di sisi tempat tidurnya. Sebenarnya dia tak menyangka Bintang akan menelponnya untuk memintanya melepaskan Bulan. Dia sendiri tidak tahu dari mana lelaki itu mendapatkan nomor ponselnya.
Tapi dia salut pada Bintang. Perasaannya terhadap Bulan pastilah amat dalam. Mungkin lebih dalam dari rasa yang ada dalam hatinya untuk gadis itu.
Sementara itu Bulan sudah tertidur. Sedari tadi dia menunggu dengan cemas Bintang yang tak kunjung pulang. Karena malam semakin larut akhirnya ia pun tertidur.
Suara pagar yang dibanting mengejutkan Bulan. Gadis itu terbangun dan menyibak tirai jendela kamarnya. Rupanya Bintang yang baru pulang. Cowok itu berjalan sempoyongan sambil bersenandung dengan lirik dan irama yang tidak karuan. Sesekali cowok itu menyebut namanya. Hati Bulan seperti tertusuk pisau. Selama ini  Bintang bahkan tak pernah suka pada minuman yang bersoda apalagi beralkohol, tapi malam ini lelaki itu malah mabuk berat.
Bintang hampir terjatuh saat dia berjalan menuju pintu utama rumahnya. Langkahnya yang sempoyongan membuatnya menabrak kursi teras di sisi pintu.
“Astaga Bintang, ada apa ini?” Mamanya yang terbangun kaget melihat anaknya.
“Ha..ha..tenang saja Bu…Bintang tidak apa-apa.” Ucapnya. “Hiik!” Cowok itu cegukan diikuti rasa mual yang menyerangnya. Tiba-tiba saja ia merasa ingin muntah.
“Bintang…” Cemas ibunya.
“Huweek!” Akhirnya ia memuntahkan alkohol dan makanan yang ada di perutnya. Ibunya mengusap punggung anaknya.
“Maafkan aku Bintang.” Lirih suara Bulan.
Aku…apakah aku menyakiti hatinya? Bulan bertanya pada dirinya.
Keesokan harinya ketika Bulan terbangun dari tidurnya ia menyingkap tirai jendela kamarnya dan memandang ke depan ke arah kamar Bintang.
“Hai…” Lelaki itu menyapanya sambil tersenyum namun Bulan dapat melihat mendung di mata lelaki itu. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sana sambil memandang ke arah kamarnya.
“Kata ibu, semalam aku membuat onar. Apa kau tahu?” Tanya Bintang memandangnya lekat.
“Ya..” Sahut Bulan.
“Tak ingin bertanya mengapa?” Bintang memandang Bulan dengan matanya yang bersinar redup.
Bulan menggeleng. “ Tak perlu berbuat begitu bukan?”
“Aku hanya ingin menghibur diriku.”
“Apa kau pikir hanya kau sendiri yang terluka?” Bulan bertanya.
“Kau tidak pernah memikirkan perasaanku kan? Perasaan ibumu yang khawatir?” Bintang terdiam.
“Kenapa harus memikirkan perasaan orang lain sementara di sini, aku merasa amat sakit.” Bintang menunjuk dadanya.
Maaf, jika karena aku kau terluka.” Bulan berkata lalu beranjak dari tempatnya. Bintang memanggilnya. Namun gadis itu telah meninggalkan kamarnya.
Hai, bagaimana kabar Bintang? Tiba-tiba sms dari Matahari masuk.
Aku telah melukainya. Amat dalam…Dia mabuk berat semalam, dan aku tak tahu harus bagaimana. Balas Bulan.
Matahari terdiam. Dia tahu Bulan pasti menanggung beban dan rasa bersalah yang berat. Matahari berpikir apakah sebaiknya ia memberitahukan Bulan tentang telepon Bintang, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Waktu pasti akan menyembuhkan dia dari lukanya. Matahari berusaha  menguatkannya.
Aku mencintaimu…Bulan  menitikkan air matanya ketika membalas sms Matahari. Inginnya ia ada di samping Matahari. Bersandar di bahu lelaki itu dan menenangkan hatinya yang sakit  oleh rasa bersalah karena melukai Bintang yang mencintainya.
Aku juga amat sangat mencintaimu. Matahari membalas sms Bulan.
Bulan memandang ke kursi di sebelahnya. Kosong, sekosong hatinya saat ini. Bintang yang biasanya selalu setia duduk di sebelahnya saat jam kuliah kini entah ada di mana. Sejak tadi siang Bintang sudah menghilang dari rumahnya. Padahal selama ini dialah yang selalu berteriak agar mereka tidak sampai terlambat masuk ke kelas.
Kekosongan merayap perlahan dalam hatinya. Waktu istirahat yang biasanya mereka pakai untuk nongkrong di warung Pak Suko kini memaksanya untuk duduk sendiri di kelas sambil merenungi kesendiriannya.
“Eits…ini pacarku ya. Nggak ada yang boleh dekat.” Bulan masih ingat kata-kata yang diucapkan Bintang saat lalu. Ketika itu ia mengira Bintang hanya bercanda dengan teman-temannya. Saat Merkurius dan Mars menggoda Bulan.
“Aku sudah mencintaimu sejak dulu Bulan.” Kata-kata Bintang terulang kembali di telinganya.”Aku tidak tahu mengapa kau memilih Matahari.”
“Cinta yang tumbuh sejak  masa kanak-kanak kau pikir begitu mudahkah untuk dilupakan?”
Jujur saja, untuk membuang semua kenangan yang pernah ada bersama Bintang ia tak akan sanggup. Lalu bagaimana ia bisa meminta Bintang untuk melupakan cinta yang sudah ada di hatinya sejak masa kanak-kanak mereka?
Malam ini kembali Bintang pulang dalam keadaan mabuk.  Bulan makin didera oleh rasa bersalah.
“Belajarlah mencintainya Bulan, kupikir itu yang terbaik. Lagipula Matahari  begitu jauh dan entah kapan kan datang padamu. Mungkin saja  ia telah menduakan dirimu.” Ucap kakaknya ketika ia bercerita tentang perasaan Bintang dan sikapnya yang berubah setelah penolakkannya.
“Tidak Kak, aku percaya Matahari, dan aku hanya mencintainya. Jika aku terpaksa meninggalkannya, aku juga tidak akan bersama Bintang.” Sahut Bulan lirih.
“Aku memang tidak bisa mencintaimu, tapi jangan membuatku membencimu. Kau bisa?” Bulan berkata pada Bintang keesokan harinya saat cowok itu mencekal lengannya ketika ia hendak berangkat kuliah.
Bintang menunduk. “Pergilah ambil bukumu. Sudah waktunya untuk kuliah, sebentar lagi semesteran dan aku tak ingin kuliahmu terbengkalai karena hal ini.” Bulan berkata padanya.
“Hei, kenapa kalian berdua? Lagi berantem ya?” Goda teman-teman saat melihat mereka tidak seceria biasanya.
“Siapa bilang, enak aja!” Sahut Bulan cepat. Namun baru saja Bintang duduk sekejap akhirnya ia beranjak meninggalkan tempatnya. Gadis yang duduk di sampingnya itu menghela nafas panjang.
“Kenapa dia?” Tanya Venus.
“Lagi bete kali ya?” Merkurius menebak sambil terus melihat punggung Bintang yang menjauh.
Sudah diputuskan Bulan ia tak akan memilih siapa pun. Baik Bintang ataupun Matahari. Ia tak ingin menyakiti Bintang yang melihatnya  selalu setia  menunggu Matahari. Begitu pun sebaliknya. Ia tak akan mengkhianati cinta Matahari untuknya . Ia akan pergi sejauh mungkin di mana segalanya akan kembali normal tanpa cinta segitiga di antara mereka.
Bintang kelabakan ketika beberapa hari ini tidak melihat Bulan. Seperti juga Matahari yang panik karena sudah beberapa hari ini Bulan tidak membalas sms atau menjawab teleponnya.
“Maaf, aku tidak diperbolehkan memberitahukan kepada kalian di mana dia berada.” Kakak Bulan yang ditanya oleh Bintang maupun Matahari menjawab.
“Dia sudah bosan menderita dengan rasa cinta dan rasa bersalah yang ada. Jadi dia memutuskan untuk tidak memilih seorang pun dari kalian.”
Tidak ada yang tahu ke mana Bulan menyembunyikan diri dengan kerinduannya akan Matahari dan keakrabannya dengan Bintang. Bulan yang biasanya ceria kini berubah menjadi gadis yang pendiam. Entah sampai  kapan ia harus bersembunyi seperti ini dari orang-orang yang disayang dan dicintainya.
Maafkan aku Bulan, harusnya aku mengerti hatimu, sesal Bintang setiap kali ia memandang ke arah jendela kamar Bulan. Selalu ia berharap suatu hari gadis itu akan berdiri di sana memberikan senyum manisnya seperti dulu.
Matahari masih tak habis pikir mengapa Bulan tega meninggalkannya. Namun ia masih akan terus menanti hadirnya Bulan yang menyapanya dengan kelembutan  dan cinta dari gadis itu.
Karya : HELMY FENISIA
HP : 08126422698
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar